HARGA SEBUAH GENGSI

Kuperhatikan seorang nenek yang seharusnya menikmati masa tuanya, sedang menjual sayur dikaki lima. Karena merasa iba, aku membeli 2 ikat sayur jualan beliau dengan menyerahkan selembar Rp 50.000 dan aku senggaja meninggalkan nenek tersebut tanpa mengharapkan duit kembalian dari beliau setelah mengambil sayuran yang aku beli dari beliau.

Tapi ketika aku hendak beranjak pulang kerumah membawa sayur tersebut, nenek tersebut berteriak minta saya jangan pergi dulu karena beliau ingin menukar duit receh untuk mengembalikan duit kembalian saya. Saya bilang nga papa nek, tapi nenek tersebut sikeras menahan saya dan meminta saya menunggu beliau untuk menukar duit receh.

Sebelum nenek ini ingin menukar duit receh, datang seorang tante yang mengandeng tas dengan tulisan LV. Dan aku tau itu logo merk Louis Voitton. Harga aslinya tentu bisa mencapai ratusan hingga milyaran Rupiah, Ataupun dari pengalaman saya di Bali, Harga Tas Cewe Merk Loius Voitton KW Super atau Duplikasi bisa mencapai belasan juta.

Tante tersebut bertanya pada nenek tersebut berapa harga seikat sayurnya, Nenek itu jawab Rp 3.000 Seikat. Dan Tante tersebut MENAWAR. Dan ancam tidak jadi beli kalau si nenek tidak menjualnya seharga Rp5.000 buat 2 ikat sayur dagangan si nenek.

Waktu itu, Sungguh aku ingin mengomel pada tante tersebut, tapi karena si nenek terlanjur mengikhlaskan harga yang ditawarkan si tante ini, yang kemudian membawa sayur yang dibelinya kedalam mobil CRV nya, aku cuman bisa mengeleng-geleng kepala.

Dalam hatiku, “cuman beda seribu juga tidak cukup buat biaya parkir mobilmu di mall.”

Karena neneknya sikeras mau mengembalikan uang kembalian saya, maka aku beli semua sisa dagangan nenek tersebut yang tinggal 6 ikat, aku (berdosa) bohong bilang 8 ikat jadi kubilang total 10 ikat,dengan alasan beli buat teman. Dan nenek yang JUJUR ini memgembalikan saya Rp 20.000.

Disini aku bukan mau sok pamer aku ini dermawan,karena aku emang bukan dermawan, karena kalau ada pengamen yang kaki tangannya masih normal dan masih muda, jangan harap dapat duit recehan saya meskipun cuman gopek. Jangan harap. Ogah saya hehe.

Tujuan saya berbagi pengalaman ini, hanya ingin mengajak kita semua untuk belajar menghargai usaha orang lain karena semua orang pasti ingin dihargai. Sebelum ingin dihargai orang lain, belajarlah menghargai orang lain dulu.

Ketika kita di HYPERMART, ALFA MART, INDOMARET dan super/mini market lainnya, kadang tanpa mengecek bon atas barang pembelian kita, langsung kita bayar sesuai angka dimonitor (apakah kita pernah TAWAR HARGA?), sedangkan dengan pedagang kecil harus perang adu mulut MENAWAR harga, meskipun uang yang berhasil kau tawarkan itu, tidak akan bikin kau tambah kaya dengan alasan HEMAT.

Mereka yang namanya pedagang kecil, omzet dan keuntungan mereka laksana bumi dan langit dengan perusahaan MART-MART belakangnya kawan. Mereka juga perlu cari keuntungan buat biaya hidup.

Ketika anda membeli tas LV, DIOR, D&G, COCO CHANEL, DLL, apakah pernah tawar-menawar meskipun harga BARANG tersebut, tau sendiri angkanya di OUTLET resminya? Jarang dan boleh dibilang tidak pernahkan karena GENGSI??!!

Ironisnya ketika membeli barang dagangan para pedagang kecil, Dimanakah letak GENGSI mu dan HATI NURANI mu hingga TEGA masih ingin memakai budaya tawar menawar harga pada mereka?!!

GENGSI itu bukan dari apa yang nampak dari luarmu, tapi dari KEPRIBADIANMU.

Semoga bermanfaat buat renungan untuk intropeksi diri kita,untuk belajar jangan tawar-menawar harga dengan pedagang kecil lagi. Kalau merasa MAHAL, yah jangan beli. Simple kan? Daripada memamerkan GENGSI mu yang harganya cuman ceceng noceng goceng buat tawar harga sebuah barang dagangan dari pedagang kecil.

CopyAMP code

JELAJAHI