ENERGI SURYA, SEBAGAI ENERGI ALTERNATIF RAMAH LINGKUNGAN

Manusia hidup berdampingan dengan energi dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Energi merupakan kebutuhan pokok bagi kehidupan manusia selain sandang, pangan, dan papan.

Dari sisi pemanfaatan energi, dunia masih sangat tergantung terhadap energi tak terbarukan alias energi fosil.

Masifnya penggunaan energi fosil membuat bumi diracuni polusi, lingkungan rusak akibat ekploitasi serta limbah yang dihasilkan, dan emisi gas rumah kaca meningkat. Energi fosil (minyak, gas, batu bara dll) lambat laun akan mulai habis maka dari itu harus mulai dipersipakan energi energi lain, terutama energi terbarukan. Oleh karena itu, pengembangan energi terbarukan sangat penting untuk ditingkatkan dan terus digaungkan akhir-akhir ini.

Dunia membutuhkan sumber energi alternatif ramah lingkungan yang ketersediaannya berlimpah, serta dapat diperbarui (non-konvensional).

Untuk memenuhi kebutuhan energi yang terus meningkat itulah maka dikembangkan berbagai energi alternatif, di antaranya energi terbarukan.

Potensi energi terbarukan seperti energi surya/matahari yang bila dimanfaatkan dengan baik dan optimal maka potensi energi terbarukan tersebut sangatlah besar.

Energi surya adalah energi yang berupa panas dan cahaya yang dipancarkan matahari. Energi surya (matahari) merupakan salah satu sumber energi terbarukan yang sangat bisa di optimalkan.

Penggunaan energi surya khususnya di Indonesia masih dibilang cukup minim, padahal jika dilihat dari letak geografisnya, Indonesia yang terbentang di garis khatulistiwa mendapatkan curahan sinar matahari sepanjang tahun. Jika keuntungan ini dapat termanfaatkan dengan baik sebagai sumber energi bersih, maka Indonesia memiliki potensi yang begitu besar menjadi negara paling kaya energi di dunia serta menjadikan listrik tenaga alternatif yang ramah lingkungan dan tidak memberikan kontribusi terhadap perubahan iklim seperti pada kasus penggunaan bahan bakar fosil. Karena panel surya tidak memancarkan gas rumah kaca seperti karbon dioksida.

Pemanfaatan energi surya cocok diterapkan di Indonesia yang memiliki curah sinaran matahari yang sepanjang tahun sehingga bisa menjadi salah satu sumber energi alternatif dengan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).

Beberapa keunggulan utama energi surya terhadap lingkungan meliputi, Mengurangi Polusi Udara
Pembangkit listrik dari bahan bakar fosil dapat menghasilkan karbon dioksida dan gas metana berbahaya yang menurunkan kualitas udara dan akan berdampak buruk bagi kesehatan kita. Menggunakan energi surya/matahari berarti mengurangi bahan bakar fosil. Menghasilkan listrik dari panel surya tidak akan menghasilkan emisi berbahaya, dan bila semakin banyak rumah dan industri yang menggunakan tenaga surya berarti mengurangi emisi beracun yang sudah ada. Membantu memperlambat Perubahan Iklim
Pelepasan gas beracun ke atmosfer, seperti karbon dioksida, metana, dan dinitrogen oksida, tidak hanya berkontribusi pada polusi udara, tetapi juga berkontribusi pada peningkatan efek rumah kaca. Hal ini telah meningkatkan efek rumah kaca, yang menghangatkan bumi kita lebih cepat dari sebelumnya.

Dalam beberapa tahun terakhir, hal ini dikaitkan dengan sejumlah peristiwa cuaca yang sangat dahsyat, seperti banjir, siklon, badai, panas ekstrem, dan kekeringan.

Pembangkit listrik dari panel surya tidak menghasilkan gas rumah kaca sama sekali, sehingga dapat membantu mengurangi efek perubahan iklim jika digunakan secara luas.

Dengan energi surya yang menggerakkan rumah atau industri, tidak ada pembakaran bahan bakar dan tidak ada emisi dari produksi energi.

Mengurangi Jejak Karbon Rumah Tangga
Panel surya tidak melepaskan gas berbahaya ke udara, dan sumber energinya melimpah dan, yang terbaik, gratis. Menggunakan energi surya berarti mengurangi kebutuhan energi emisi karbon dioksida yang akan diproduksi, antara setengah hingga 1 (satu) ton karbon dioksida untuk setiap megawatt-jam energi matahari yang kita gunakan. Bahkan dengan sistem kecil yang terpasang di rumah, dapat membantu mengurangi jejak karbon rumah tangga.
Mengurangi Ketergantungan Baha, Bakar Fosil Pasokan energi surya sangat besar. Sinar matahari yang digunakan dalam produksi energi matahari itu gratis, dan jumlahnya banyak sekali. Di sisi lain, bahan bakar fosil semakin menipis. Mengurangi ketergantungan kita pada sumber daya yang terbatas ini dan memanfaatkan sumber energi gratis yang berlimpah, seperti sinar matahari, dapat berarti menurunkan harga energi, mengurangi emisi gas rumah kaca, dan masa depan energi yang lebih kuat dan lebih stabil.

Taufik Firmansyah
S2 Ilmu Lingkungan 2021
Universitas Jenderal Soedirman