Seni Kaligrafi Syiar Mewarnai Dunia Oleh : M. Arif Syukur Kepala Sub Devisi Pemberdayaan Masyarakat Jakarta Islamic Centre

Gemilangnews.com, Jakarta – Dunia ini selalu menawarkan sebuah perubahan yang tanpa henti, silih berganti keadaan adalah keniscayaan yang akan menjadi siklus di dalamnya. Perputaran waktu seringkali menjadi tolak ukur adanya perubahan dalam setiap prilaku manusia yang ada di dalamnya. Perkembangan teknologi yang semakin cepat, menembus ruang dan waktu tanpa bisa terbendung perjalanannya. Sebenarnya fenomena ini adalah peristiwa sejarah yang sudah ada terus-menerus dalam bingkai kehidupan manusia, kata perubahan menjadi penting untuk di urai menjadi sebuah energi positif yang mampu menggerakan manusia untuk mampu melestarikan semesta ini dan tetap tunduk pada sunnatullah, sepadan dengan ungkapan “rahmatal lil ‘alamiin”.Menanam Warna SemestaMelihat lebih jauh sebuah perubahan merupakan bagian yang indah menemukan pencerahan tentang warna warni kehidupan. Seni memandang pergantian siang dan malam, gelap terang, hitam putih, besar kecil, tua muda, kebahagian dan kesedihan menjadi penanda bahwa kita sedang memahami sebuah hakikat jiwa. Jiwa yang selalu ingin kebahagian tidak akan bisa dihancurkan oleh kepalsuan dunia yang seringkali menipu. Semesta mengajarkan kepada kita akan sebuah ketertundukan yang mutlak tanpa ada tawar menawar. Warna semesta inilah yang mengajarkan kepada kita bahwa kehidupan ini akan sampai pada sebuah batas, ketika sudah berada di titik batas itu, kita hanya bisa tertunduk tak berdaya. ada ungkapan yang indah “ إِنْ قَامَتِ السَّاعَةُ وَ فِي يَدِ أَحَدِكُمْ فَسِيْلَةٌ فَإِنِ اسْتَطَاعَ أَنْ لاَ تَقُوْمَ حَتَّى يَغْرِسَهَا فَلْيَغْرِسْهَا“ Sekiranya hari kiamat hendak terjadi, sedangkan di tangan salah seorang di antara kalian ada bibit kurma maka apabila dia mampu menanamnya sebelum terjadinya kiamat maka hendaklah dia menanamnya.” Goresan Yang Mewarnai DuniaSapuan kuas, torehan tinta, cat yang menyibak warna warni, membentuk titik, garis dan bentuk lainnya bukanlah sesuatu yang sederhana kehadirannya. Dia hadir dari rasa yang tumbuh dari kesadaran kolektif tentang sebuah keadaan. Bisa saja dia mewakili rasa sedih, bahagia, gunda gulana bahkan sesuatu yang tidak sepadan di ungkapkan dengan rangkaian kata. Yang tampak belum tentu dapat dimakanai sebagai sesuatu yang nyata, itulah sepertinya yang terlihat dari karya seni kaligrafi kontemporer yang dihadirkan dalam pameran kali ini. Para kaligrafer mengungkapkan torehan indah menulis kaligrafi dalam keragaman yang syarat makna. Sudah saatnya kehadiran seni kaligrafi Islam yang bersifat universal ini hadir ke permukaan, menjadi bagian penting dari tatanan kehidupan, bukan saja kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat akan tetapi kehidupan berbangsa, bahkan tatanan dunia. Menjadi seni yang mempertemukan dan menyatukan, menguatkan simpul keindahan perdamaian dan kesejahteraan.Berbenalah Mewarnai DuniaKita semua khususnya para kaligrafer harus terus berbenah, hari ini kita bukan saja menjadi warga Indonesia, tapi sudah menjadi warga dunia. Sejatinya kita bukan yang terwarnai oleh majunya perkembangan zaman, tapi kita menjadi penentu warna apa yang akan kita torehkan di dunia. Seni kaligrafi kontemporer harus terus beradabtasi dengan perubahan, ia hadir bisa sebagai titik, sebagai garis bahkan bisa menentukan warna dunia.Pameran yang menghadirkan cara baru melalui virtual harusnya menjadi spirit yang tanpa batas dalam berkarya, karena setiap hari kita bisa mewarnai kehidupan dunia ini dengan memamerkan karya tanpa batas wilayah. Penikmatnya bukan saja orang terdekat dari kehidupan kita, tapi sudah merambah ke seluruh ruang dan waktu yang berbeda.Hari ini setiap kita dituntut bukan saja berkarya, tapi yang lebih penting adalah mengkomunikasikan karya kita ke khalayak. Tidak cukup kita yang tahu ide dan gagasan sebuah karya, sejatinya ia harus sampai ke ruang publik. Seni kaligrafi Islam memiliki kelebihan yang tidak dimiliki pada karya seni rupa lainnya, yakni dari objek garapannya adalah sebuah keagungan ayat-ayat Allah atau hadits-hadits dari Rasulullah. Pesan nan indah ini harus mampu menembus spektrum yang lebih luas, bukan berhenti pada karya yang bersifat benda diam, tapi mampu menjadi penggerak untuk beramal dalam kebaikan dan kemanfaatan. Hari ini kita harus bersama, mengenyampingkan idialisme untuk sebuah cita-cita besar untuk saling berbagi, bersinergi dan berkolaborasi mewarnai dunia yang lebih membahagiakan.Dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan. (QS: At-Taubah Ayat: 105).

Dunia ini selalu menawarkan sebuah perubahan yang tanpa henti, silih berganti keadaan adalah keniscayaan yang akan menjadi siklus di dalamnya. Perputaran waktu seringkali menjadi tolak ukur adanya perubahan dalam setiap prilaku manusia yang ada di dalamnya. Perkembangan teknologi yang semakin cepat, menembus ruang dan waktu tanpa bisa terbendung perjalanannya. Sebenarnya fenomena ini adalah peristiwa sejarah yang sudah ada terus-menerus dalam bingkai kehidupan manusia, kata perubahan menjadi penting untuk di urai menjadi sebuah energi positif yang mampu menggerakan manusia untuk mampu melestarikan semesta ini dan tetap tunduk pada sunnatullah, sepadan dengan ungkapan “rahmatal lil ‘alamiin”.

Menanam Warna Semesta

Foto : M. Arif Syukur

Melihat lebih jauh sebuah perubahan merupakan bagian yang indah menemukan pencerahan tentang warna warni kehidupan. Seni memandang pergantian siang dan malam, gelap terang, hitam putih, besar kecil, tua muda, kebahagian dan kesedihan menjadi penanda bahwa kita sedang memahami sebuah hakikat jiwa. Jiwa yang selalu ingin kebahagian tidak akan bisa dihancurkan oleh kepalsuan dunia yang seringkali menipu. Semesta mengajarkan kepada kita akan sebuah ketertundukan yang mutlak tanpa ada tawar menawar. Warna semesta inilah yang mengajarkan kepada kita bahwa kehidupan ini akan sampai pada sebuah batas, ketika sudah berada di titik batas itu, kita hanya bisa tertunduk tak berdaya. ada ungkapan yang indah “

إِنْ قَامَتِ السَّاعَةُ وَ فِي يَدِ أَحَدِكُمْ فَسِيْلَةٌ فَإِنِ اسْتَطَاعَ أَنْ لاَ تَقُوْمَ

حَتَّى يَغْرِسَهَا فَلْيَغْرِسْهَا

“ Sekiranya hari kiamat hendak terjadi, sedangkan di tangan salah seorang di antara kalian ada bibit kurma maka apabila dia mampu menanamnya sebelum terjadinya kiamat maka hendaklah dia menanamnya.”

Goresan Yang Mewarnai Dunia

Sapuan kuas, torehan tinta, cat yang menyibak warna warni, membentuk titik, garis dan bentuk lainnya bukanlah sesuatu yang sederhana kehadirannya. Dia hadir dari rasa yang tumbuh dari kesadaran kolektif tentang sebuah keadaan. Bisa saja dia mewakili rasa sedih, bahagia, gunda gulana bahkan sesuatu yang tidak sepadan di ungkapkan dengan rangkaian kata. Yang tampak belum tentu dapat dimakanai sebagai sesuatu yang nyata, itulah sepertinya yang terlihat dari karya seni kaligrafi kontemporer yang dihadirkan dalam pameran kali ini. Para kaligrafer mengungkapkan torehan indah menulis kaligrafi dalam keragaman yang syarat makna. Sudah saatnya kehadiran seni kaligrafi Islam yang bersifat universal ini hadir ke permukaan, menjadi bagian penting dari tatanan kehidupan, bukan saja kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat akan tetapi kehidupan berbangsa, bahkan tatanan dunia. Menjadi seni yang mempertemukan dan menyatukan, menguatkan simpul keindahan perdamaian dan kesejahteraan.

Berbenalah Mewarnai Dunia

Kita semua khususnya para kaligrafer harus terus berbenah, hari ini kita bukan saja menjadi warga Indonesia, tapi sudah menjadi warga dunia. Sejatinya kita bukan yang terwarnai oleh majunya perkembangan zaman, tapi kita menjadi penentu warna apa yang akan kita torehkan di dunia. Seni kaligrafi kontemporer harus terus beradabtasi dengan perubahan, ia hadir bisa sebagai titik, sebagai garis bahkan bisa menentukan warna dunia.

Pameran yang menghadirkan cara baru melalui virtual harusnya menjadi spirit yang tanpa batas dalam berkarya, karena setiap hari kita bisa mewarnai kehidupan dunia ini dengan memamerkan karya tanpa batas wilayah. Penikmatnya bukan saja orang terdekat dari kehidupan kita, tapi sudah merambah ke seluruh ruang dan waktu yang berbeda.

Hari ini setiap kita dituntut bukan saja berkarya, tapi yang lebih penting adalah mengkomunikasikan karya kita ke khalayak. Tidak cukup kita yang tahu ide dan gagasan sebuah karya, sejatinya ia harus sampai ke ruang publik. Seni kaligrafi Islam memiliki kelebihan yang tidak dimiliki pada karya seni rupa lainnya, yakni dari objek garapannya adalah sebuah keagungan ayat-ayat Allah atau hadits-hadits dari Rasulullah. Pesan nan indah ini harus mampu menembus spektrum yang lebih luas, bukan berhenti pada karya yang bersifat benda diam, tapi mampu menjadi penggerak untuk beramal dalam kebaikan dan kemanfaatan. Hari ini kita harus bersama, mengenyampingkan idialisme untuk sebuah cita-cita besar untuk saling berbagi, bersinergi dan berkolaborasi mewarnai dunia yang lebih membahagiakan.

Dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan. (QS: At-Taubah Ayat: 105).

Admin : ( Redaksi GN/Kasie Sarana Pemanfaatan JIC )

JELAJAHI