Susun Pedoman PJJ, Pemkot Bogor Kolaborasi Pusat Riset Pendidikan Masa Depan dan Kelas Pintar

BOGOR-Gemilangnews.com

Sejak pandemi Covid-19, proses belajar mengajar tatap muka di Kota Bogor dilaksanakan  dengan dua metode pembelajaran, yakni Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) atau peserta didik Belajar Dari Rumah (BDR) secara daring (dalam jaringan) dan pembelajaran luring (luar jaringan).

Untuk memudahkan proses belajar mengajar jarak jauh, Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor akan berkolaborasi dengan Pusat Riset Pendidikan Masa Depan dan  platform Kelas Pintar dalam menyusun pedoman PJJ.

Sekretaris Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Bogor, Dani Rahadian menuturkan, kolaborasi ini merupakan tindak lanjut antara Pemkot Bogor dengan Pusat Riset Pendidikan Masa Depan yang menggandeng platform Kelas Pintar.

“Jadi sebetulnya Pemkot Bogor sudah ada kerja sama dengan Pusat Riset Pendidikan Masa Depan pada bulan Maret lalu mengenai pedoman belajar di sekolah dan pelatihan guru, kemudian dikolaborasikan dengan Kelas Pintar. Senin nanti ada penandatangan kerja sama,” katanya, Kamis (17/9/2020).

Setelah penandatangan kerja sama kata Dani, akan ada sosialisasi ke sekolah-sekolah mengenai pedoman PJJ ini. Terutama penerapan aplikasi atau teknologi informasi dalam pembelajaran daring.

Dani menegaskan, penggunaan aplikasi Kelas Pintar dalam proses PJJ ini  merupakan kewenangan sekolah dan sifatnya tidak memaksa.

“Mereka (sekolah, red) mau memakai Kelas Pintar atau aplikasi yang lain itu kembali diserahkan ke sekolah. Jadi, Pemkot Bogor tidak mewajibkan sekolah menggunakan Kelas Pintar dalam PJJ,” jelasnya.

Menurutnya, Kelas Pintar dan Pusat Riset Pendidikan Masa Depan hanya ingin berkontribusi di bidang pendidikan di Kota Bogor dengan menyiapkan pedoman PJJ di masa pandemi Covid-19.

“Karena sejauh ini banyak sekali aplikasi belajar yang menawarkan. Jadi, ini untuk membantu dunia pendidikan. Tidak ada subsidi dari kita, tapi dengan pedoman PJJ yang kita buat pembelajaran akan berjalan efektif dan efisien sesuai dengan kurikulum darurat,” katanya.

Di masa pandemi ini, ada tiga masalah utama dalam PJJ. Pertama, mengenai ketersediaan Wifi dan kuota. Pemkot Bogor akan menyediakan 797 titik Wifi yang bisa diakses gratis tersebar di Kota Bogor dan ada juga kuota gratis dari Kemendikbud untuk siswa 35 gigabyte dan guru 45 gigabyte, termasuk bantuan dari provider, seperti Telkomsel yang akan mengcover seluruh siswa dan guru di Kota Bogor sebanyak 380 ribu kartu perdana, Indosat 30 gigabyte, 3, IM3, Smartfren ke sekolah-sekolah.

“Kalau Wifi dan kuota sudah tidak ada masalah,” kata Dani.

Kedua, ketersediaan gadget. Disdik Kota Bogor saat ini tengah mendata jumlah siswa yang tidak memiliki gadget atau kurang mampu. Tercatat, sementara ada 1.865 siswa SD dan SMP yang tidak memiliki gadget. 633 siswa SD dan 1.232 siswa SMP.

“Karena temuan pak wali saat sidak PJJ ada siswa yang 5 bulan tidak bisa sekolah karena tidak memiliki gadget. Solusinya masih diformulasikan, kemarin sudah ada yang bantu dari alumni IPB menghibahkan 25 laptop second (bekas) ke masyarakat,” katanya.

Ketiga, kompetensi guru dalam penggunaan aplikasi daring jarak jauh masih kurang. Untuk itu, perlu dilakukan pelatihan atau bimbingan teknis bagi para guru guna menunjang proses belajar mengajar dalam kurikulum darurat ini. (Prokompim)

JELAJAHI